Tuesday, July 27, 2010

Kisah Asrama Bagian 1

Ini adalah kisah saya semasa SMA. Ya nama saya widya, setelah saya lulus dari SMP saya memilih untuk sekolah di luar kota -Jawa Tengah atau Jogjakarta-. Banyak orang merasa saya aneh lebih memilih sekolah di luar kota padahal di jakarta tersedia semua kenyamanan yang diidam-idamkan setiap orang. Ya mungkin saya memang agak gila, tetapi saya memiliki alasan  mengapa saya memilih untuk bersekolah di luar kota. Alasan utama saya adalah saya ingin membebaskan diri saya dari kepenatan di kota Jakarta, saya juga ingin bangun dengan udara yang masih belum banyak tercemar dengan polusi udara. Saya menginginkan udara yang segar. Saya memiliki seorang sahabat ketika SMP, namanya Nia. Dia dan saya akhirnya memutuskan untuk ikut tes di SMA Van Lith di daerah Muntilan tapi ternyata kami berdua di tolak. Kami hanya sebagai cadangan. Okay, no problem. Saya masih bersikukuh untuk bersekolah di sini (Jawa Tengah atau Jogja). Sementara saya mencari sekolah, saya tinggal di rumah budhe saya di Ambarawa. Oh ya, saya juga berambisi apabila saya tidak masuk Van Lith, saya akan ikut tes di SMA. Sedes Sapientiae. Disinilah awal cerita saya yang benar-benar tak bisa saya lupakan. 

Budhe saya menawarkan saya 2 alternatif sekolah, SMA Virgo Fidelis yang ada di Bawen atau SMA Sedes Sapientiae di Desa Bedono (keduanya sama-sama Yayasan Marsudirini). Saya memilih untuk bersekolah di SMA.Sedes Sapientiae karena disana ber-asrama. Saya pikir SMA.Sedes Sapientiae yang dikatakan budhe saya itu adalah SMA. Sedes Sapientiae yang pernah masuk di acara suatu televisi, ternyata bukan. Hal itu baru saya ketahui setelah saya menjadi siswa disana. Saya dan ayah saya datang ke sekolah tersebut, saya benar-benar merasa senang bisa kesana (saya belum tahu kalau itu SMA.Sedes Sapientiae yang saya inginkan). Saya datang kesana langsung ikut tes, dan saya hanya sendiri disana. Aneh sekali kan tes hanya sendiri? sekolah macam apa ini? nggak ada jadwal yang pasti. Tapi saya menghilangkan semua keraguan itu. Setelah itu saya ikut tes wawancara untuk masuk asrama. Hanya saya dan seorang bapak di kelas itu.
"Siapa nama panggilan kamu?"
"Widya pak."
"Ok widya. Kamu masuk di asrama di suruh orangtua atau keinginan kamu sendiri?"
"Keinginan saya sendirilah pak."
"Kenapa kamu memilih sekolah disini, kan di Jakarta benyak sekolah?"
"Saya penat di Jakarta. Lagipula udara disini segar jadi say suka."
"Kalau di rumah kamu sukanya nonton apa?"
"Nonton kartun pak."
"Kartun?(dia agak bingung) Kok suka nonton film kartun? emang kartun apa yang kamu suka tonton?"
"ya macem-macem. Doraemon, powerpuffgirls"
"Tapi nanti kalo kamu di asrama kamu gak bisa nonton loh, kamu juga dibatasi waktu nontonnya, gak boleh bawa hp, emangnya kamu bisa?"
"ya gakpapa. itu emang tujuan saya pak."
Itulah sebagian memori yang saya ingat ketika saya tes disana. Setelah semua tes berakhir, saya dan ayah saya berkeliling di sekolah. Tapi saya takut melihat lihat disana ketika saya melihat kakak-kakak kelas saya yang sedang bermain basket di ujung lorong sekolah tepatnya di lapangan basket. Saya dulu berpikir bahwa anak SMA memiliki badan-badan yang besar. Ternyata benar, mereka  berbadan besar semua dengan muka yang sangar-sangar. Tiba-tiba dari lapangan basket itu ada seorang anak laki-laki yang menghampiri ayah saya sekedar menegur ayah saya dan ayah sayapun akhirnya saling berbincang-boncang dengannya.
Saya malu akhirnya saya meninggalkan ayah saya dan kembali ke ruang tunggu. Ketika saya menunggu disana, banyak orang (anak asrama menurut saya) berkeliaran melewati saya, ada yang senyum, ada yang mencoba ngobrol dengan saya. Ya saya terlihat newbie dengan seragam SMP saya. Saya jadi pusat perhatian karena saya sendiri disana. Setelah urusan semua selesai, saya dan ayah pulang kembali ke rumah budhe saya. Pengumuman 3 hari setelah hari itu. Hari itu saya benar-benar cemas, tapi saya optimis bahwa saya pasti diterima. Setelah 3 hari, ayah saya menelpon ke sekolah itu bertanya apakah saya diterima, ternyata benar saya diterima disana. Kami langsung menuju kesana untuk melihat pengumuman dan ternyata saya orang ke 3 yang mendaftar langsung kesana. Ya ampun sedikit banget. Ayah saya membereskan semua administrasi, saya diberi seragam, ya saya benar-benar siap menjadi murid baru disana. Saya benar-benar siap.

2 comments: