Kemaren gue ngampus kelas farmakoterapi. Gue belajar tentang hipertensi. Entah kenapa dosen gue tiba2 ngomongin tentang pacaran dan mario teguh-sang motivator handal itu- gue suka banget yg dibilang sama dosen gue. Yang pertama katanya "jangan pacaran sama se-profesi" dalam hal ini gue sebagaƬ calon apoteker jangan nyari suami yg apoteker juga. Alesannya kalo sesama apoteker,kita udah biasa dgn kehidupan cepat,tepat,teliti dan hal ini bisa-bisa kebawa sampai berkeluarga,semua hal waktunya harus diatur.Apalagi kalau ngungkit masa lalu semasa kuliah yang buruk bisa berabe kan.
Yang paling bikin gue lebih perhatian sama omongan dosen ini ketika dia bawa-bawa nama mario teguh. Katanya gini
'saya suka mario teguh,jadi saya suka sekali menontonnya. Percintaan itu nggak selamanya mulus. Kalo putus ya udah biarkan saja putus. Mungkin dia bukan jodoh kita,tapi kita harus percaya kalo sebenarnya ada jodoh lain yang sebenarnya sudah dilahirkan buat kita tapi kita belum ketemu sama dia. Makanya kalo habis putus langsung cari lagi. Ngapain nunggu-nunggu yang udah-udah. Lebih baik mencari. Jadi nggak stres kan. Dan nggak bikin hipertensi'
Gue suka banget sama kata-katanya sangat memotivasi orang yang patah hati.
Wednesday, March 9, 2011
Friday, March 4, 2011
Scared Dream
Aku tidur tepat jam 9 malam. Aku sangat capek hari kemarin karena kuliah yang begitu padat. Akhirnya pun aku bermimpi lagi. Aku berada di suatu wilayah yang sangat indah menurutku. Itu sebenarnya adalah sebuah rumah berhektar-hektar dengan halaman yang luas, aku tidak menduga sebelumnya, kalau ke rumah ini harus melalui perahu kecil. Dengan begitu aku bisa melihat keindahan alam yang lagi-lagi di sekitar rumah itu. Akhitnya aku tiba dan rumah itu sangat besar dan di depan rumah itu terhampar lautan dengan terumbu karangnya yang indah. Entahlah apa yang kulakukan di tempat itu. Aku naik ke lantai di atasnya, aku melihat keindahan laut itu dari balkon atas. Kulihat di sekitar atas itu terdapat salib. Aku tahu aku berada di rumah orang katolik, karena salibnya terdapat Tuhan Yesus. Aku berjalan, di depanku ada ruang doa. Di atasnya tertulis tulisan Arab dan dibawahnya tulisan dengan bahasa Indonesia Doa setiap pukul 6 sore.
Tiba-tiba aku sudah di meja makan bersama anak tuan rumah yang berjumlah tiga lelaki semua, anak pertama mereka cacat, dia buta, yang lain berumur sekitar 8 tahun, kurasa mereka kembar. Dan ternyata aku tidak sendiri disana, aku bersama teman-temanku Devi, Tyas, Nika, Tita, Vero, dan satu lagi teman smp ku yang aku sangat lupa namanya. Setelah kami makan bersama tiba-tiba anak tuan rumah yang pertama mengajak kami doa sore yang ternyata di ruang tadi. Dan akhirnya kami semua masuk. Disana cukup luas, dengan satu ruang lain yang aku tidak tahu apa itu. Aku mencoba memimpin doa malaikat Tuhan tapi 2 teman-temanku masih saja bercanda. Kami sudah mulai tapi mereka tetap bercanda, Akhirnya anak tuan rumah yang pertama itu marah, dan mengajak kami entah kenapa tiba-tiba sudah sampai di sebuah halaman, disana ada patung Bunda Maria. Kami mendekatinya, di sampingnya ternyata ada sebuah makam yang berupa gundukan tanah. Bulu kudukku langsung berdiri, karena di depan makam itu terdapat salib dengan wanita yang menggantung disana. Aku ebnar-benar takut saat itu. Anak itu akhirnya mengajak kita berdoa disana dan dia yang memimpin. Saat aku berdoa, aku mendengar ada keriuhan mendekati kita. Aku membuka mata sedikit, mereka tidak suka kami berdoa, kami akan dibunuh katanya.
Tiba-tiba aku tidak disana, aku ternyata sekarang berada di ruang doa yang lain tadi. Aku masuk dan disana mama dari anak tersebut mengajak kami berdoa. Setelah berdoa, tiba-tiba dia mamberikan selebaran entah apa itu. Selebaran tentang doa, lalu tiba-tiba dia bertanya
" Anda tahu nggak orang yang di sebutkan di belakang buku ini, dia punya dua anak. Ada yang tahu?"
Kami menggeleng. Tiba-tiba dia mengajak kami berdoa lagi dan temanku SMP tadi bergetar, sebenarnya akupun juga tidak kuat rasanya disana, seperti ada sesuatu dalam diriku tapi aku tetap mengukuhkan diri untuk berdoa. Teman SMP ku tiba-tiba menangis dan aku semakin takut saja dan badanku rasanya tidak kuat lagi. Aku takut sekali. Dan mama tadi tetap berdoa. Aku semakin kuat berdoa. Dan ketika doa selesai, tiba-tiba temanku yang tadi bergetar mengucapkan terima kasih dengan aksen yang aneh, katanya kita telah membebaskannya. Aku semakin merinding.
Aku dibawa lagi ke ruang lain, teman SMP ku itu juga ikut, raut mukanya masih aneh dan dia melihatku begitu tajam. Aku sangat takut sekali. Kugandeng teman sebelahku kuat-kuat. Tiba-tiba mama mengatakan bahwa buku doa yang tadi diberikan jangan sampai diketahui orang lain. Aku semakin curiga. Tapi aku menepiskan itu. Di ruang aku dibawa, kami akan berdoa lagi, ruang itu penuh lilin ada salib dan bunda maria juga bunga disana. Di belakang itu terdapat jendela tembus pandang, kulihat jalan raya, banyak mobil lalu lalang. Aku yakin orang dapat melihat kegiatan kita. Tiba-tiba aku keluar, saat itu sedah malam, aku ingin menghirup udara segar karena keadaan aneh hari ini.
Saat aku diluar, aku lihat ada umat yang sedang memperbaiki mobilnya, yang satu di depan memperbaiki mesin mobil dan yang satu di belakang. Dari arah lain kulihat anak laki-laki agak gemuk berumur sekitar 9 tahun dengan barbaju kuning tiba-tiba menghampiri mobil itu dan mendorongnya dengan sekali dorongan. Aku kaget, dia akan membunuh orang yang di depan mobil itu karena di depan mobil ada sebuah tembok. Ternyata orang yang di depan mobil itu sedah tahu, dan dia dapat menahan mobil itu. Anak itu tertawa terbahak-bahak. Kemudian orang yang tadi berada di depan mobil kembali mendorong mobil sehingga anak itu terjatuh. Aku terkejut sekali, banyak mobil berhenti dan menyaksikan itu, bahkan banyak yang mencaci orang itu karena telah menabraknya. Tapi anak itu kemudian bangkit, mengambil pipa besi dan memukul seorang wanita berkerudung yang berada di dalam mobil. kemudian satpam mencoba menahan anak itu. Sirine polisipun kudengar di kejauhan
Tiba-tiba aku sudah di meja makan bersama anak tuan rumah yang berjumlah tiga lelaki semua, anak pertama mereka cacat, dia buta, yang lain berumur sekitar 8 tahun, kurasa mereka kembar. Dan ternyata aku tidak sendiri disana, aku bersama teman-temanku Devi, Tyas, Nika, Tita, Vero, dan satu lagi teman smp ku yang aku sangat lupa namanya. Setelah kami makan bersama tiba-tiba anak tuan rumah yang pertama mengajak kami doa sore yang ternyata di ruang tadi. Dan akhirnya kami semua masuk. Disana cukup luas, dengan satu ruang lain yang aku tidak tahu apa itu. Aku mencoba memimpin doa malaikat Tuhan tapi 2 teman-temanku masih saja bercanda. Kami sudah mulai tapi mereka tetap bercanda, Akhirnya anak tuan rumah yang pertama itu marah, dan mengajak kami entah kenapa tiba-tiba sudah sampai di sebuah halaman, disana ada patung Bunda Maria. Kami mendekatinya, di sampingnya ternyata ada sebuah makam yang berupa gundukan tanah. Bulu kudukku langsung berdiri, karena di depan makam itu terdapat salib dengan wanita yang menggantung disana. Aku ebnar-benar takut saat itu. Anak itu akhirnya mengajak kita berdoa disana dan dia yang memimpin. Saat aku berdoa, aku mendengar ada keriuhan mendekati kita. Aku membuka mata sedikit, mereka tidak suka kami berdoa, kami akan dibunuh katanya.
Tiba-tiba aku tidak disana, aku ternyata sekarang berada di ruang doa yang lain tadi. Aku masuk dan disana mama dari anak tersebut mengajak kami berdoa. Setelah berdoa, tiba-tiba dia mamberikan selebaran entah apa itu. Selebaran tentang doa, lalu tiba-tiba dia bertanya
" Anda tahu nggak orang yang di sebutkan di belakang buku ini, dia punya dua anak. Ada yang tahu?"
Kami menggeleng. Tiba-tiba dia mengajak kami berdoa lagi dan temanku SMP tadi bergetar, sebenarnya akupun juga tidak kuat rasanya disana, seperti ada sesuatu dalam diriku tapi aku tetap mengukuhkan diri untuk berdoa. Teman SMP ku tiba-tiba menangis dan aku semakin takut saja dan badanku rasanya tidak kuat lagi. Aku takut sekali. Dan mama tadi tetap berdoa. Aku semakin kuat berdoa. Dan ketika doa selesai, tiba-tiba temanku yang tadi bergetar mengucapkan terima kasih dengan aksen yang aneh, katanya kita telah membebaskannya. Aku semakin merinding.
Aku dibawa lagi ke ruang lain, teman SMP ku itu juga ikut, raut mukanya masih aneh dan dia melihatku begitu tajam. Aku sangat takut sekali. Kugandeng teman sebelahku kuat-kuat. Tiba-tiba mama mengatakan bahwa buku doa yang tadi diberikan jangan sampai diketahui orang lain. Aku semakin curiga. Tapi aku menepiskan itu. Di ruang aku dibawa, kami akan berdoa lagi, ruang itu penuh lilin ada salib dan bunda maria juga bunga disana. Di belakang itu terdapat jendela tembus pandang, kulihat jalan raya, banyak mobil lalu lalang. Aku yakin orang dapat melihat kegiatan kita. Tiba-tiba aku keluar, saat itu sedah malam, aku ingin menghirup udara segar karena keadaan aneh hari ini.
Saat aku diluar, aku lihat ada umat yang sedang memperbaiki mobilnya, yang satu di depan memperbaiki mesin mobil dan yang satu di belakang. Dari arah lain kulihat anak laki-laki agak gemuk berumur sekitar 9 tahun dengan barbaju kuning tiba-tiba menghampiri mobil itu dan mendorongnya dengan sekali dorongan. Aku kaget, dia akan membunuh orang yang di depan mobil itu karena di depan mobil ada sebuah tembok. Ternyata orang yang di depan mobil itu sedah tahu, dan dia dapat menahan mobil itu. Anak itu tertawa terbahak-bahak. Kemudian orang yang tadi berada di depan mobil kembali mendorong mobil sehingga anak itu terjatuh. Aku terkejut sekali, banyak mobil berhenti dan menyaksikan itu, bahkan banyak yang mencaci orang itu karena telah menabraknya. Tapi anak itu kemudian bangkit, mengambil pipa besi dan memukul seorang wanita berkerudung yang berada di dalam mobil. kemudian satpam mencoba menahan anak itu. Sirine polisipun kudengar di kejauhan
Secret Agent
Ini seperti sebuah Inception bagi hidupku, mengapa aku ada di dunia ini dan dapat melakukan hal itu. Aku tidak mengenal siapa diriku dan orang yang menjadi partnerku ketika itu. Tugasku hanya menembus waktu melalui sebuah cermin dimana semua arsiteknya ditentukan oleh seorang pemimpin yang aku tidak tahu siapakah dia. Ini adalah pekerjaan pertamaku, aku datang di sebuah tempat seorang perwira tinggi, lagi-lagi aku tidak megerti siapa dia, yang kutahu dia sangat hebat. Partnerku adalah seorang yang sangat jeli dan sangat hati-hati, aku belum tahu siapa dia, ya aku hanya menjalankan tugas seperti disihir rasanya. Aku menembus waktu bersamanya, tugasku benar-benar jahat, aku harus mengambil semua kekayaan perwira itu, aku berpikir apakah aku benar-benar seorang penjahat? mengapa aku harus melalui waktu yang begitu membingungkan aku.
Partnerku sebut saja Thrust- itu nama agen yang diberikan kepadanya- dan aku adalah Lady. Aku dan dia entah dibawah perintah agen mana aku tidak tahu. Nama belakang kami sama Thypoid dan kami pun punya kode nama. Lagi-lagi hal ini membingungkan aku. Akhirnya kami mencoba masuk ke dalam rumah perwira itu, rumahnya sangat kecil mungin sekitar tipe 27. Aku selalu dibelakang, mengikuti Thrust, melewati ruang tamu, dan kutemukan perwira kaget dengan kehadiran kami. Akhirnya aksi tembakan pun dimulai. Aku benar-benar takut, aku belum pernah menggunakan senjata. Aku hanya bisa melindungi diri dan tidak menembak, bersembunyi di dapur, Tiba-tiba adu tembak pun selesai, Thrust lah yang memenangkan semuanya. Aku takut sekali melihatnya. Mungkin Thrust tahu apa yang kurasakan.
"Ini bukan senjata asli, ini hanya senjata pembius, durasi waktu hanya 1 menit. Kita harus bertindak cepat"
Aku kemudian mengambil tas dan memasukkan semua uang itu ke dalamnya. 1 tas penuh kami bawa.
Aku dan Thrust pergi melalui waktu kembali melalui cermin, Thrust ingin kita mengendarai motor perwira untuk masuk ke dalam cermin itu. Thrust memasukkan kunci motor itu, membuka kemudian menstarternya tapi motor tidak nyala sama sekali. Aku sangat khawatir sekali saat itu. Bagaimana jika kita ketahuan. Akhirnya Thrust mencoba sekali lagi dan tetap tidak menyala. Kami mencoba motor yang lain - perwira itu punya 2 motor- dan hasilnya nihil, padahal cermin sudah berada di sebelah kanan kami.
" Kita salah keluar jalan, kita harus melewati pintu belakang dari rumah ini, kalau tidak kita tidak pulang"
Thrust mengatakan itu membuatku khawatir. Karena aku harus kembali masuk ke rumah itu dan kembali keluar lewat pintu belakang itulah satu-satunya cara agar cermin terbuka. Oh tidak.
Tiba-tiba Thrust mendengar suara, istri dan anak perwira yang umurnya sekitar 6 tahun sedang berada di meja kamar, beruntung Thrust meletakkan perwira di sebuah kamar. Thrust turun dan mengintip melalui celah, tentu saja aku mengikutinya. Thrust memberi kode padaku. Ya, waktu kami sudah habis. Dan perwira itu keluar dari kamarnya dengan menguap, sepertinya itu efek dari tembakan Thrust. Mataku masih tertuju pada istri dan anaknya, aku berpikir apakah aku harus masuk melalui pintu belakang dan menyekap mereka? Aku mau pulang, itu saja yang kupikirkan.
Akhirnya kuberanikan masuk, kutodongkan pistol ke arah istri dan anaknya, aku hanya menakuti , tidak ada keberanian untuk menembak. Mereka berteriak, dan perwira itu dengan cepatnya menghampiri mereka dan menodongkan pistol kembali ke arahku. Tidak, aku benar-benar ingin pergi secepatnya. Aku tidak mau mati disini. Tiba-tiba kumerasakan tarikan kuat dari belakang, itu Thrust, tangan Thrust menarikku kuat sekali hingga aku terbangun dan aku tidak tahu kejadian selanjutnya.
Partnerku sebut saja Thrust- itu nama agen yang diberikan kepadanya- dan aku adalah Lady. Aku dan dia entah dibawah perintah agen mana aku tidak tahu. Nama belakang kami sama Thypoid dan kami pun punya kode nama. Lagi-lagi hal ini membingungkan aku. Akhirnya kami mencoba masuk ke dalam rumah perwira itu, rumahnya sangat kecil mungin sekitar tipe 27. Aku selalu dibelakang, mengikuti Thrust, melewati ruang tamu, dan kutemukan perwira kaget dengan kehadiran kami. Akhirnya aksi tembakan pun dimulai. Aku benar-benar takut, aku belum pernah menggunakan senjata. Aku hanya bisa melindungi diri dan tidak menembak, bersembunyi di dapur, Tiba-tiba adu tembak pun selesai, Thrust lah yang memenangkan semuanya. Aku takut sekali melihatnya. Mungkin Thrust tahu apa yang kurasakan.
"Ini bukan senjata asli, ini hanya senjata pembius, durasi waktu hanya 1 menit. Kita harus bertindak cepat"
Aku kemudian mengambil tas dan memasukkan semua uang itu ke dalamnya. 1 tas penuh kami bawa.
Aku dan Thrust pergi melalui waktu kembali melalui cermin, Thrust ingin kita mengendarai motor perwira untuk masuk ke dalam cermin itu. Thrust memasukkan kunci motor itu, membuka kemudian menstarternya tapi motor tidak nyala sama sekali. Aku sangat khawatir sekali saat itu. Bagaimana jika kita ketahuan. Akhirnya Thrust mencoba sekali lagi dan tetap tidak menyala. Kami mencoba motor yang lain - perwira itu punya 2 motor- dan hasilnya nihil, padahal cermin sudah berada di sebelah kanan kami.
" Kita salah keluar jalan, kita harus melewati pintu belakang dari rumah ini, kalau tidak kita tidak pulang"
Thrust mengatakan itu membuatku khawatir. Karena aku harus kembali masuk ke rumah itu dan kembali keluar lewat pintu belakang itulah satu-satunya cara agar cermin terbuka. Oh tidak.
Tiba-tiba Thrust mendengar suara, istri dan anak perwira yang umurnya sekitar 6 tahun sedang berada di meja kamar, beruntung Thrust meletakkan perwira di sebuah kamar. Thrust turun dan mengintip melalui celah, tentu saja aku mengikutinya. Thrust memberi kode padaku. Ya, waktu kami sudah habis. Dan perwira itu keluar dari kamarnya dengan menguap, sepertinya itu efek dari tembakan Thrust. Mataku masih tertuju pada istri dan anaknya, aku berpikir apakah aku harus masuk melalui pintu belakang dan menyekap mereka? Aku mau pulang, itu saja yang kupikirkan.
Akhirnya kuberanikan masuk, kutodongkan pistol ke arah istri dan anaknya, aku hanya menakuti , tidak ada keberanian untuk menembak. Mereka berteriak, dan perwira itu dengan cepatnya menghampiri mereka dan menodongkan pistol kembali ke arahku. Tidak, aku benar-benar ingin pergi secepatnya. Aku tidak mau mati disini. Tiba-tiba kumerasakan tarikan kuat dari belakang, itu Thrust, tangan Thrust menarikku kuat sekali hingga aku terbangun dan aku tidak tahu kejadian selanjutnya.
Subscribe to:
Comments (Atom)